
Tidak gampang puas, rasa ingin tahu yang besar, serta memiliki visi yang jauh ke depan membuat Steve Jobs mampu membangun perusahaan yang menduduki peringkat pertama yang paling dikagumi di dunia (Fortune Magazine, 2008) serta menjadi salah satu dari seratus orang paling berpengaruh di dunia (Time Magazine, 2008).
"Anda harus percaya bahwa titik-titik yang Anda jalankan hari ini akan terhubung suatu saat, di masa depan Anda. Anda harus percaya – pada keinginan Anda, takdir, kepercayaan, karma, atau apapun. Hal inilah yang membuat saya tidak pernah putus asa, dan membuat semua perbedaan dalam hidup saya.” ~ Steve Jobs
Anak Adopsi
Steve Jobs lahir pada 24 Februari 1955 dari seorang ibu berkebangsaan Amerika, Joanne Carole Schieble, dan ayah berkebangsaan Syria, Abdulfattah Jandali mahasiswa tamu dari Syria. Joanne hamil sebelum menikah dengan Abdulfattah. Karena keduanya masih kuliah maka Joanne berencana memberikan Steve kepada orang lain untuk diadopsi. Ketika masih dalam kandungan, seorang pengacara dan isterinya sudah berminat untuk memungut Steve. Tetapi mereka berubah pikiran ketika tahu bahwa bayi yang dikandung Joanne adalah laki-laki.
Joanne segera mencari pasangan lain yang mau mengadopsi Steve dengan persyaratan keluarga yang mengadopsi anaknya nanti harus memiliki gelar sarjana. Setelah berbulan-bulan tidak menemukan pasangan yang memenuhi kriteria, Joanne akhirnya menandatangani perjanjian adopsi dengan Paul dan Clara Jobs dari Mountain View, Santa Clara County California. Ibu angkat Steve tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkatnya tidak tamat SMA, namun mereka berjanji kepada Joanne akan menyekolahkan Steve sampai perguruan tinggi.
Masa Sekolah
Sejak remaja, Steve sudah menunjukkan ketertarikannya pada peranti elektronik. Ia pernah menelepon langsung William Hewlett, presiden Hewlett Packard untuk meminta beberapa komponen elektronik untuk tugas sekolahnya. Melihat ada potensi dalam diri Steve, William pun menawarkan Steve untuk menjadi pekerja paruh waktu di perusahaannya. Di perusahaan inilah Steve berkenalan dan bersahabat dengan Steve Wozniak. Tahun 1972 Steve lulus dari SMA Homestead di Curpetino, California. Sesuai dengan janji kedua orang tua angkatnya, di usia yang ke-17 Steve melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi di Reed College di Portland, Oregon. Salah satu kampus yang cukup mahal di kota itu. Seluruh tabungan orang tua angkat Steve yang bekerja sebagai pegawai rendahan - habis untuk biaya kuliah.
Setelah beberapa bulan kuliah, Steve mengalami pergumulan hebat dalam batinnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dalam hidupnya dan ia pun merasa kuliah tidak mampu membantunya menemukan tujuan hidupnya. Steve merasa bersalah telah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua angkatnya seumur hidup mereka. Untuk sesuatu yang menurutnya tidak bermanfaat. Steve pun memutuskan berhenti kuliah. Ia hanya mengikuti pelajaran kaligrafi di kampusnya meskipun sudah DO. Satu-satunya kelas yang ia sukai. Meskipun ia bisa masuk ke Reed College, namun hari-hari yang ia lewati dalam hidupnya tidak selalu menyenangkan. Uang sakunya kurang dari cukup. Ia tidak punya uang untuk menyewa kamar kos sehingga harus numpang tidur di lantai kamar kos teman yang satu ke teman yang lainnya. Sering ia memungut botol Coca-Cola bekas untuk dijual kembali seharga 5 sen dan uangnya dipakai untuk membeli makanan. Seminggu sekali ia berjalan sejauh 7 mil untuk mengambil makanan gratis yang lebih enak di biara Hare Krishna.
Membuka Usaha
Tahun 1974 Steve kembali ke California. Ia bertemu dengan Steve Wozniak dan mereka mencoba melamar kerja di Atari Inc, sebuah perusahaan pembuat permainan komputer yang terkenal. Keduanya diterima. Steve bekerja di sana sebagai perancang permainan. Dua tahun kemudian, pada tanggal 1 April Steve mengajak sahabatnya itu berhenti dari Atari Inc dan mendirikan Apple Computer Co. Steve Wozniak setuju. Mereka pun mulai menjalani usaha baru mereka di dalam garasi rumah milik keluarga Steve. Setiap hari mereka bekerja keras tanpa kenal lelah merakit sendiri komputer pribadi yang diberi nama Apple I. Hasil yang didapat dari penjualan Apple I dipakai untuk membuat produk baru yang lebih sempurna.
Setahun kemudian mereka memperkenalkan Apple II. Usaha mereka kali ini memperoleh kesuksesan besar di industri komputer pribadi. Prestasi inilah yang membuat Apple Computer mencatatkan namanya di bursa efek pada tahun 1980 dengan penawaran saham awal yang bernilai tinggi. Meskipun semakin tenar, Steve tidak berhenti sampai di situ. Ia Terus mengembangkan inovasi komputernya dengan membuat Apple III, Apple Lisa dan Macintosh. Apple Computer semakin berkembang pesat. Steve pun merekrut John Sculley dari perusahaan Pepsi Cola untuk memimpin perusahaan Apple Computer.
Kekecewaan terdalam dialami Steve pada tahun 1985, ketika dewan direksi Apple memecatnya karena dianggap terlalu ambisius dan adanya perbedaan visi di antara mereka yang sulit disatukan. Selama beberapa bulan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia merasa menjadi tokoh publik yang gagal serta mengecewakan banyak orang. Karena rasa cinta akan pekerjaannya begitu besar, Steve akhirnya memutuskan untuk memulai kembali dari awal merintis usaha baru. Kejadian pahit yang dialaminya memaksa diri Steve untuk menjadi lebih kreatif.
Kembali ke Apple
Di tahun 1986 Steve membeli perusahaan kecil bernama Pixar, sebuah studio animasi komputer di Emeryville, California. Di waktu yang bersamaan ia juga mendirikan perusahaan baru bernama NeXT Computer. Tahun 1996 Apple membeli NeXT. Steve kembali lagi ke Apple dan menjadi pemimpin sementara. Banyak pihak yang menilai Steve tidak akan mampu mengangkat Apple yang pada waktu itu berada di ambang kebangkrutan. Tetapi ternyata teknologi yang dikembangkan di NeXT menjadi pemicu kebangkitan Apple. Dibawah bimbingan Steve nilai penjualan perusahaan Apple semakin meningkat, sehingga Apple berhasil berada di jajaran elit produsen alat teknologi papan atas. Produk-produknya seperti iMac, iPod, iPhone dan iPad sangat diminati oleh masyarakat dunia. Sedangkan perusahaan Pixar yang pernah dibeli oleh Steve, dalam waktu 9 tahun berhasil bertumbuh menjadi studio animasi paling sukses di dunia. Pixar menjadi terkenal dengan film perdananya Toy Story yang sukses di pasaran. Menyusul film Finding Nemo dan The incredibles yang berhasil memenangkan Academy Award. Semua itu berkat sentuhan tangan dingin Steve Jobs.