Di tahun 2009, majalah Forbes edisi Kamis 3 Desember 2009 menobatkan Sandiaga Salahuddin Uno atau yang lebih sering disapa Sandi Uno sebagai orang terkaya di Indonesia No. 29 dengan estimasi kekayaan sebesar USD 400 juta. Setara dengan Rp 3 Triliyun, 750 Milyar jika dikonversikan dengan kurs Rp 9.300 / USD. Tahun sebelumnya, ia dinobatkan menjadi “Entrepreneur of The Year” dari Enterprise Asia untuk predikat pengusaha terbaik.
“Hari esok pasti akan lebih baik dari hari ini. Setiap kali ada masalah pasti ada solusi. Setiap keinginan pasti ada jalannya.” ~ Sandi Uno
Awal Karier Sebagai Karyawan
Tidak seperti sebagian besar keberhasilan para pengusaha muda besar lainnya yang berasal dari Indonesia, Sandi Uno merintis usahanya seorang diri. Bukan karena kekayaan turunan atau bisnis keluarga. Namun ia juga tidak berasal dari keluarga yang miskin. Pria kelahiran 28 Juni 1969 ini lahir di lingkungan pendidik. Ayahnya Razif Halik Uno, dikenal dengan Henk Uno, adalah seorang pekerja yang sangat loyal di sebuah perusahaan minyak. Sementara ibunya, Rachmini Rachman atau Mien Uno adalah seorang ahli dan pelopor ilmu kepribadian di Indonesia. Kedua orangtuanya lebih suka Sandi Uno bekerja di perusahaan, tidak terjun langsung menjadi wirausaha.
Sewaktu sekolah hingga kuliah, Sandi Uno hanya berkutat pada diktat-diktatnya. Ia mengakui bahwa dirinya sangat perfeksionis. Tak heran jika waktu dan energy yang dimilikinya hampir ia korbankan semua untuk belajar. Usahanya meraih prestasi akhirnya membuahkan hasil yang mengesankan. Ia menyelesaikan pendidikan formalnya dengan predikat summa cumlaude dan mendapat gelar Bachelor of Business Administration di The Wichita State University, Kansas, AS, pada tahun 1990. Namun karena saking fokusnya pada setiap mata kuliah yang ia ambil, Sandi Uno menjadi kurang pergaulan. Ini adalah pengorbanan lain yang harus ia berikan agar bisa mendapat nilai yang baik.
Saat kembali ke Indonesia pada tahun yang sama dengan tahun kelulusannya, Sandi Uno mendapat kepercayaan dari perintis Grup Astra, almarhum William Soeryadjaja untuk bergabung ke Bank Summa. Itulah awal Sandi Uno terus bekerja sama dengan keluarga taipan tersebut. Almarhum William Soeryadjaja menjadi guru yang hebat bagi Sandi Uno, almarhum membagi ilmu bisnis dan menularkan jiwa wirausahanya. Di Bank Summa inilah ia mengetahui kerasnya dunia bisnis yang sesungguhnya.
Sandi Uno hanya bertahan satu setengah warsa di tanah air. Ia mendapat beasiswa dari tempatnya bekerja untuk melanjutkan pendidikan di George Washington University, Washington, AS. Tidak berbeda seperti sebelumnya, meskipun kini segala biaya hidup dan pendidikan ditanggung oleh perusahaan, Sandi Uno tetap memiliki semangat dan menerapkan nilai-nilai yang sama dalam menjalani perannya sebagai seorang mahasiswa. Ia pun lulus dengan indeks prestasi kumulatif 4,00. Namun di waktu yang sama, fase-fase sulit harus dihadapi oleh Sandi Uno. Bank Summa ditutup. Sandi Uno yang merasa berutang budi ikut membantu penyelesaian masalah di Bank Summa.
Posisi Puncak dan Kegagalan Terberat
Setelah 4 tahun bekerja bersama Suma Group, pada tahun 1993 Sandi Uno hijrah ke Singapura untuk bekerja di Seapower Asia Investment Limited. Setahun kemudian kariernya terus melesat. Pada tahun 1994 ia bergabung dengan MP Holding Limited Group sebagai investment manager. Sandi Uno berprinsip untuk tetap fokus di bidang yang pernah ia tekuni semasa kuliah, yaitu pengelolaan investasi. Apa yang dinantikan Sandi Uno terwujud pada tahun 1995. Ia menjabat posisi Executive Vice President di NTI Resources Ltd, Kanada, dengan penghasilan 8.000 dollar AS per bulan.
Mapan sejenak, Sandi Uno kembali terempas. Krisis moneter sejak akhir 1997 menyebabkan perusahaan tempat dia bekerja tutup. Semua tabungan hasil jerih payahnya yang diinvestasikan ke pasar modal juga turut kandas akibat ambruknya bursa saham global. Terbiasa mendapat gaji setiap bulan, sekarang ia harus berpikir bagaimana bisa bertahan hidup. Sandi Uno kembali ke Indonesia dan menumpang di rumah orangtuanya karena tidak mampu membayar sewa rumah. Situasi sulit ini sempat membuatnya putus asa.
Menjadi Pengusaha Sukses
Pada saat itu banyak perusahaan papan atas yang terpuruk tak berdaya akibat runtuhnya nilai aset-aset mereka. Di tengah krisis tersebut justru membuat Sandi Uno mampu berpikir secara kreatif. Pada tahun 1997 bersama teman sekolahnya semasa SMA, Rosan Perkasa Roeslani, ia mendirikan perusahaan penasihat keuangan, PT Recapital. Dan tak lama kemudian ia mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya bersama salah satu anak almarhum William Soeryadjaja, Edwin Soeryadjaja. Berbekal jejaring relasi dengan perusahaan serta lembaga keuangan dalam dan luar negeri, Sandi menjalankan bisnis itu. Bersama Edwin, Sandi Uno segera menyusun rencana untuk meyankinkan investor-investor mancanegara agar mau menyuntikkan dana ke tanah air. Kesulitan demi kesulitan ia temui ketika hendak meyakinkan mereka bahwa Indonesia masih punya prospek.
Sandi Uno dan kolega-koleganya mulai membeli perusahaan-perusahaan yang sudah di ujung tanduk dan berada dalam perawatan BPPN/ PPA. Kemudian mereka menjual perusahaan itu kembali ketika sudah stabil. Dari bisnis itulah, nama Sandi Uno mencuat dan meraih keuntungan yang sangat besar. Ia juga terlibat dalam pembelian maupun refinancing perusahaan-perusahaan di dalam negeri. Seperti mengakuisisi PT Dipasena Citra Darmaja, Adaro Energy, PT BTPN, PT Astra Microtronics, hingga Hotel Grand Kemang. Dari situlah kepakan sayap bisnis Sandi Uno melebar hingga kini. Saratoga Investama Sedaya mempunyai saham besar di PT Adaro Energy Tbk, perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia yang punya cadangan 928 juta ton batu bara.
Sandi Uno mengibaratkan dunia usaha seperti naik sepeda, yakni kerap jatuh – bangun. Hanya keberanian, optimisme dalam memandang masa depan yang membuka jalan untuk mendulang kesuksesan. Jejaring relasi hanya menyumbang 30% dari kesuksesan. Akan tetapi selebihnya ia percaya akan kerja keras dan kejujuran.