Aung San Suu Kyi adalah seorang aktivis pro-demokrasi Myanmar dan pemimpin partai Liga Nasional untuk Demokrasi. Dia telah menghabiskan lebih dari 15 tahun dalam tahanan, sebagian besar dalam tahanan rumah. Pada tahun 1991, ia menerima penghargaan Nobel Perdamaian karena perjuangannya mempromosikan demokrasi di negaranya tanpa menggunakan kekerasan dalam menentang kekuasaan rezim militer.
"I've always thought that the best solution for those who feel helpless is for them to help others. I think then they will start feeling less helpless themselves." ~ Aung San Suu Kyi.
Keluarga Pejuang
Aung San Suu Kyi adalah bungsu dari tiga bersaudara. Dia lahir di Rangoon, Burma, pada tanggal 19 Juni 1945. Nama Aung San diambil dari nama ayahnya, Suu dari nama neneknya dan Kyi dari nama ibunya. Ayah Aung San Suu Kyi, Jenderal Aung San, adalah seorang pemimpin perjuangan kemerdekaan Burma. Bahkan, kedua orang tuanya bertemu ketika ayahnya terluka dalam pertempuran melawan Inggris dan dikirim ke rumah sakit tempat Daw Khin Kyi, ibunya, bekerja sebagai seorang perawat. Setelah Perang Dunia 2, saat Aung San Suu Kyi baru berusia 2 tahun, Jenderal Aung San dibunuh oleh saingan politiknya.
Masa kecil Aung San Suu Kyi dihabiskan di Rangoon, Burma, hingga ia berusia 15 tahun. Pada tahun 1960 Daw Khin Kyi, ibunya, memperoleh kehormatan sebagai tokoh politik dalam pemerintahan Burma yang baru terbentuk. Daw Khin Kyi ditunjuk sebagai duta besar Burma di India. Aung San Suu Kyi pun mengikuti ibunya pergi ke India setelah menjalani pendidikan di sekolah Katolik Inggris di Rangoon, Burma.
Aung San Suu Kyi menyelesaikan kuliahnya selama 4 tahun di Lady Shri Ram College di New Delhi, India, dan melanjutkan pendidikan di St. Hugh’s College dan Oxford University, Inggris. Melalui dua lembaga perguruan tinggi ini ia memperoleh kesarjanaan di bidang ekonomi, politik dan filsafat, serta dianugerahi doktor honorary pada tahun 1990. Saat ia belajar di Oxford University, ia bertemu dengan Michael Aris, seorang cendikiawan keturunan Tibet – Inggris, dan mereka memutuskan untuk menikah pada tahun 1972. Setelah satu tahun menikah, Aung San Suu Kyi melahirkan anak laki-laki pertamanya, Alexander, di kota London dan pada tahun 1977 dia melahirkan anak keduanya, Kim, di Oxford.
Kembali Ke Burma
Aung San Suu Kyi kembali ke Burma pada tahun 1988 untuk merawat ibunya yang sakit parah. Tak lama setelah itu ia mulai terlibat dalam pemberontakan demokrasi nasional. Pada saat itu rezim militer menanggapi pemberontakan dengan kekerasan, bahkan sempat membunuh sekitar 5.000 demonstran pada tanggal 8 Agustus 1988. Menyusul kudeta militer pada tanggal 18 September 1988, seiring memburuknya kondisi ekonomi dalam negeri. Pembunuhan warga oleh pihak militer membuat Aung San Suu Kyi secara terang-terangan mengkritik keras para pimpinan militer Myanmar.
Pada tanggal 27 September 1988 dibentuklah partai pro-demokrasi baru bernama Liga Nasional untuk Demokrasi. Partai ini dipimpin oleh Aung San Suu Kyi yang bertindak sebagai Sekretaris Jenderal. Dia banyak memberikan pidato, menyerukan kebebasan dan demokrasi ke berbagai pelosok wilayah Myanmar. Secara lantang ia berbicara di depan puluhan ribu massa, berusaha untuk menyatukan rakyat serta membakar semangat mereka dalam perjuangan panjang menuju kemerdekaan.
Menjadi Tahanan Dan Menerima Nobel
Setelah Aung San Suu Kyi mendapat sambutan yang besar dari rakyat dan menjadi populer, penganiayaan terhadap setiap kampanyenya oleh pihak militer semakin meningkat. Untuk pertama kali pada bulan Juli 1989 Aung San Suu Kyi ditahan dalam tahanan rumah.
Akibat desakan dari dalam dan luar negeri, pada tahun 1990 pemerintahan diktator Myanmar yang setahun sebelumnya masih bernama Burma, dipaksa untuk mengadakan pemilihan umum. Berkat andil Aung San Suu Kyi bersama para aktivis demokrasi lainnya, partai Liga Nasional untuk Demokrasi secara mengejutkan memenangkan 82% dari total kursi di parlemen. Tetapi hasil pemilihan umum tidak pernah diakui, dan rezim militer menolak untuk menyerahkan kekuasaan. Bahkan melanjutkan masa tahanan rumah Aung San Suu Kyi hingga tahun 1995. Dia menghabiskan waktu 6 tahun hidupnya tinggal di villanya di Rangoon sebagai tahanan rumah. Di masa-masa itu ia sering menulis pidato dan menerbitkan banyak buku.
Pada tanggal 14 Oktober 1991, Aung San Suu Kyi dianugerahi penghargaan Nobel Perdamaian dan uang hadiah sebesar 1,3 juta dollar. Karena masih dalam status tahanan, maka kedua anaknyalah yang mewakili penerimaan nobel tersebut di Oslo, Norwegia. Dengan uang hadiah yang diterimanya, ia mendirikan sebuah yayasan kesehatan dan pendidikan untuk masyarakat Myanmar.
Penahanan Terakhir
Pada tahun 2000, setahun setelah suaminya meninggal akibat kanker prostat, Aung San Suu Kyi kembali menjadi tahanan rumah selama 2 tahun karena berulang kali mencoba mengadakan pertemuan politik di luar kota Rangoon. Setelah dibebaskan, ia mulai melakukan perjalanan negara dan mengadakan pertemuan. Puluhan ribu orang ternyata masih mendukung dan tidak melupakannya meskipun ia sempat diisolasi dalam tahanan rumah.
Pada tanggal 30 Mei 2003, diktator Burma mengatur penyerangan terhadap konvoi kendaraan Aung San Suu Kyi. Ini merupakan upaya untuk membunuhnya dengan menggunakan masyarakat sipil agar militer tidak disalahkan, namun Aung San Suu Kyi berhasil diselamatkan oleh supirnya sendiri. Lebih dari 70 pendukung Aung San Suu Kyi dipukuli sampai mati oleh kelompok penyerang. Pemerintah diktator mengklaim kejadian tersebut adalah kerusuhan antara dua kelompok politik yang dipicu oleh partai Liga Nasional untuk Demokrasi.
Setelah serangan itu, Aung San Suu Kyi ditahan dan kemudian ditempatkan kembali di dalam tahanan rumah. Penahanannya kali ini lebih ketat daripada sebelumnya; ia tidak diperbolehkan menelepon, menerima surat, menerima tamu, dan relawan keamanan pribadi dari partainya pun ikut disingkirkan. Pada bulan Mei 2009, beberapa hari sebelum masa tahanan rumahnya berakhir, Aung San Suu Kyi ditahan lagi dan didakwa telah melanggar ketentuan tahanan rumah, yang melarang dia untuk menerima tamu, setelah seorang warga negara Amerika Serikat berenang menyeberangi danau Inya untuk sampai ke rumahnya. Aung San Suu Kyi dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 18 bulan penjara, hingga bulan November 2010. Dia sudah menjalani penahanan selama 15 dari 21 tahun terakhir ini.
Selama perjuangannya mengupayakan kehidupan demokrasi di Myanmar, Aung San Suu Kyi telah memenangkan berbagai penghargaan internasional, termasuk Nobel Perdamaian, penghargaan Hak Azasi Manusia Rafto, penghargaan Nobel Sakharov dari Parlemen Eropa, dan United States Presidential Medal of Freedom.