Executive Search In Indonesia - Headhunters Indonesia

rimbun job linkedin rimbun job linkedin
rimbun job inquiry rimbun job inquiry
logo rimbun job
Info Center

Apakah pikiran negatif harus dihilangkan? Pentingnya keseimbangan antara pikiran positif dan negatif

12 Feb 2015 / / Tips & Tutorial

info 2

Kekuatan dari berpikir positif sudah sering kita dengar dan selalu diajarkan kepada kita baik melalui motivator, ataupun penulis buku seperti “The Secret”.  Arti positif yang digunakan dalam “Berpikir Positif” menyarankan kita untuk membayangkan sesuatu yang kita inginkan secara rinci dan dengan penuh keyakinan maka kita pasti akan mendapatkannya. Misalnya, kita membayangkan duduk di dalam mobil yang kita inginkan, merasakan kenyamanannya, mencium bau kulit dari jok mobil dan berpikir “ ini adalah milik saya”.

 

Namun, permasalahannya adalah akurasi dari hasil berpikir positif seperti yang diajarkan belum dapat dibuktikan secara nyata dan hal yang paling buruk adalah kita harus menghilangkan pikiran negatif.

 

Ada 3 kerugian dari berpikir positif secara berlebihan:

 

1. Mengabaikan Emosi Negatif.
Begitu banyak fokus yang diberikan kepada kekuatan berpikir positif sehingga kita tidak lagi menghargai kebaikan dari emosi negatif.

Tidak Mengindahkan rasa sakit secara emosional dari kesulitan hidup di dunia ini dapat membuat kita untuk tidak lagi berusaha mengubah keadaan menjadi lebih baik bagi diri kita maupun orang lain. Terbuka untuk merasakan emosi positif dan negatif dapat membantu seseorang menemukan makna di dalam hidupnya.

2. Mendorong pemikiran tentang keajaiban. 
Optimisme yang berlebihan dapat membuat kita meremehkan resiko dan ini bisa berakibat kepada pegambilan keputusan yang salah. Adalah suatu iming-iming yang tidak terbukti bahwa hal-hal positif lebih mungkin terjadi kepada kita yang selalu berpikiran positif dan akan menghindarkan kita dari peristiwa negatif.

Berpikir positif yang baik adalah jika pemikiran tersebut dapat memacu kita untuk mengambil suatu tindakan untuk mengubah situasi hidup menjadi lebih baik. Akan tetapi, berpikir positif bisa menjadi masalah apabila kita memilih untuk mengabaikan tanda peringatan yang muncul dari pikiran negatif sehingga kita tidak lagi realistis.


3. Membina rasa puas. 
Apakah mungkin bagi kita untuk membayangkan hasil terbaik dari suatu peristiwa yang akan       datang dengan menipu pikiran kita untuk percaya bahwa kita telah mencapai hal itu?  Iya, menurut sebuah studi dari Dr Gabrielle Oetting. (Professor of Psychology dari New York University)

Penilitian dari Dr Gabrielle Oetting menunjukan bahwa ketika peserta diminta memvisualisasikan diri sendiri telah mencapai sesuatu yang terbaik (misalnya mendapatkan nilai A dalam ujian), tingkat energi mereka turun, sehingga menghasilkan kinerja yang lebih buruk dibandingkan dengan peserta yang diminta untuk memvisualisasikan diri mencapai sesuatu yang lebih realistis.

Para peneliti menjelaskan bahwa dengan berfantasi telah mendapatkan hasil paling maksimal sebenarnya dapat menurunkan motivasi seseorang untuk mengejar tujuannya, oleh karena mereka merasa sudah mencapainya walaupun hanya di dalam pikiran mereka. 
 

Tentu, berpikir positif adalah baik untuk meningkatkan kepercayaan diri dan bertahan di saat sulit. Akan tetapi, seperti banyak hal dalam hidup ini, keseimbangan adalah kuncinya.

 

Menyeimbangkan antara berpikir positif dan negatif adalah hal sangat penting terutama dalam dunia bisnis. Evaluasi secara kritis terhadap suatu rencana membuat perusahaan lebih siap dalam menghadapi masalah tak terduga, dan mendorong manajer untuk merencanakan setiap kemungkinan yang dapat terjadi.

 

Dr Robert Schwarz dan Dr Gregory Garamoni, Psikologis dari Amerika, menyarankan suatu rasio kombinasi yang ideal, yaitu 2/3 pikiran positif dan 1/3 pikiran negatif.  

Contributor

 

Debby Lim